Malam
yang menguat betema “Kearifan Budaya Bagian Dari Aset Pradaban Dunia” tentang
percakapan dengan semesta adalah pekerjaan yang sudah dan sedang berlangsung
hingga kini. Mencari hubungan kebermaknaan di antara relasi yang tercipta
sendiri melalui konfirmasi dan afirmasi terhadap alam semesta demi menunjang
kehidupan, merupakan perihal terbentuknya peradaban tinggi, lebih ketika
bersanding dengan sebuah masyarakat yang memiliki aksara tulis sebagaimana
Bugis Makassar dengan lontara-nya.
Kualitas
budaya lampau atas keberadaan aksara-tulis (Huruf Lontara) me-petakan sistem
kebiasaan kepengetahuanan manusia, entah itu filsafat, kosmologi, atau bahkan
sastra, menjadi jembatan acuan. Lalu melalui pelisanan, maka alam semesta
berkisah mewujudkan dirinya sebagai aset pradaban dunia.
Penemun
tempat bersejarah dengan fosil padi, fleks atau tombak mata tiga tertua, dan
alat tenun tertua yang bahannya masih menggunakan kulit kayu dan akar pohon
tertentu, sebuah periode yang sangat jauh sebelum dunia kemudian menggunakan
tenun berbahan sutera.
Malam
dialog dalam diskusi alam, peradaban dan
budaya, dan haul OI yang sedang milad, menyatu, melebur, meng-imersikan diri
dengan malam yang lamat-lamat bergerak kembali dan para penggiat alam mengerang
di benak mereka, mengental pertanyaan
tentang alam, sebagai “sesuatu”, seperti teks lagu “mau dibawa kemana, hubungan
kita.”
Editor
: A.Maradja


