iklan *

MAROS BUKAN MASYARAKAT INDUSTRI : DIALOG BUDAYA

Dialog awal menguat tentang konteks karakteristik memandang kearifan masyarakat budaya, penguatan dialog dimulai dengan kritik atas teori penetrasi sosial, yang lebih berdasar atas rencana pembangunan jangka panjang daerah. dengan diharapkan sebuah pengkajian implikasi upaya pemerataan budaya,sebagai bentuk keselarasan aspirasi pembangunan kota, bukan semata terbentuknya hubungan yang hanya sekedar prinsip untung rugi, juga ke tidaksepahaman dengan pandangan bahwa Kabupaten Maros tepat dilihat sebagai masyarakat industrI, perihal yang sesunguhnya terbantahkan ketika terjelaskan cakupan nilai-nilai keteladanan dan banyaknya penanda jejak peradaban tua seperti di Leang-Leang , Rammang-Rammang dan anak-anak gua lain yang jumlahnya ratusan di Kabupaten Maros, muatan bahasan aspek hubungan sosial dan alam, merupakan nuansa dari sesuatu hubungan batin yang murni, bersifat alamiah dan kekal.

Malam yang menguat betema “Kearifan Budaya Bagian Dari Aset Pradaban Dunia” tentang percakapan dengan semesta adalah pekerjaan yang sudah dan sedang berlangsung hingga kini. Mencari hubungan kebermaknaan di antara relasi yang tercipta sendiri melalui konfirmasi dan afirmasi terhadap alam semesta demi menunjang kehidupan, merupakan perihal terbentuknya peradaban tinggi, lebih ketika bersanding dengan sebuah masyarakat yang memiliki aksara tulis sebagaimana Bugis Makassar dengan lontara-nya.

Kualitas budaya lampau atas keberadaan aksara-tulis (Huruf Lontara) me-petakan sistem kebiasaan kepengetahuanan manusia, entah itu filsafat, kosmologi, atau bahkan sastra, menjadi jembatan acuan. Lalu melalui pelisanan, maka alam semesta berkisah mewujudkan dirinya sebagai aset pradaban dunia.

Penemun tempat bersejarah dengan fosil padi, fleks atau tombak mata tiga tertua, dan alat tenun tertua yang bahannya masih menggunakan kulit kayu dan akar pohon tertentu, sebuah periode yang sangat jauh sebelum dunia kemudian menggunakan tenun berbahan sutera.
Malam dialog dalam diskusi  alam, peradaban dan budaya, dan haul OI yang sedang milad, menyatu, melebur, meng-imersikan diri dengan malam yang lamat-lamat bergerak kembali dan para penggiat alam mengerang di benak mereka,  mengental pertanyaan tentang alam, sebagai “sesuatu”, seperti teks lagu “mau dibawa kemana, hubungan kita.”

Editor : A.Maradja

Artikel

Budaya