Maros.Sulsel-
reaksipress.com –Komunitas
‘Orang Indonesia’ (OI) Kabupaten Maros Memperingati hari ulang tahun yang ke-V
di lokasi wisata taman purbakala leang-leang Kecamatan Bantimurung Kabupaten
Maros dengan menggelar dialog budaya, Sabtu (03/02).
Ketua
OI Maros, Ismail Nurdin mengatakan bahwa OI menggelar dialog budaya selain
membuat hal baru dalam perayaan milad, juga berangkat dari keprihatinan OI,
melihat pola kehidupan masyarakat yang mulai melupakan akar budaya dan kearifan
lokal yang sebenarnya memiliki nilai-nilai yang perlu dijaga.
“Kami
berusaha menjaga nilai-nilai ini dengan menggelar dialog agar kemudian anak
muda jaman now bisa mengenali jati diri mereka sesungguhnya, juga berupaya
menggugah semua kalangan untuk sadar lingkungan.”paparnya
Gelaran
milad bertema “Kearifan Budaya Bagian dari Aset Peradaban Dunia” menghadirkan
tiga narasumber yakni Ir. A. Muhammad Irfan, AB. Anggota DPRD Provinsi Sulawesi
Selatan, Budayawan Maros, Kaimuddin, M.Bck, dan Iwan Dento “rammang-rammang”
seorang aktifis lingkungan.
Dihadiri puluhan Ormas pencinta alam maros, dan undangan dari berbagai kalangan, acara yang dikemas dengan sederhana namun memberi kesan mendalam menjadi menarik dengan paparan materi dari para narasumber yang mengulik peran budaya, kearifan lokal dan kebertahanan budaya dalam tekanan mesin industri, serta penjagaan lingkungan lewat kearifan lokal.
Dalam
paparannya, Kaimuddin, M.Bck., mejelaskan bagaimana keberadaan aksara tulis
Lontarak, yang mampu mem-petakan kebiasaan dan pengetahuan lampau dalam beragam
bentuk. “Aksara Lontara mem-petakan sistem kebiasaan
kepengetahuanan manusia, entah itu filsafat, kosmologi, atau bahkan sastra,
menjadi jembatan acuan. Lalu melalui pelisanan, maka alam semesta berkisah
mewujudkan dirinya sebagai aset peradaban dunia.”paparnya.
Ia
menambahkan bahwa dari tempat bersejarah Leang-leang ditemukan fosil padi,
fleks atau tombak mata tiga tertua, dan alat tenun tertua yang bahannya masih
menggunakan kulit kayu dan akar pohon tertentu, sebuah periode yang sangat jauh
sebelum dunia kemudian menggunakan tenun berbahan sutera.
Sementara, A. Muh Irfan AB. Dalam paparannya mengatakan, bahwa kebudayaan semestinya dipakai untuk mendorong partisifasi luas masyarakat. Dia mencontohkan Rammang-rammang yang kini dikenal dunia dan masih dikelola oleh masyarakat lokal seperti Iwan Dento.
Iwan
Dento, tokoh aktivis lingkungan yang ‘menjaga’ kawasan karst Rammang-rammang
memaparkan kegelian ketika ia sibuk ber selfie ria di puncak Gunung Bulu
saraung dan lupa dengan bagian alam lain
yang di gerus habis.
“Kita
akan berhenti di sebut pendaki bila tidak ada lagi gunung yang bisa kita daki, ketika
semuanya sudah dibuat bongkahan untuk alasan industri.” katanya.
Ia
juga menceritakan awal menjadi pemelihara alam Rammang-rammang yang berangkat dari kegelisahannya melihat
truk-truk tronton yang hilir mudik Pangkep-Maros membawa bongkahan karst untuk
di ekspor.
Acara
dialog ditutup oleh ketua OI Maros, dengan memotong kue ulang tahun dan
membagikan kepada para undangan sebagai makanan pembuka.(SB)
Editor
: A.Maradja.



