LELAKI
HUJAN
Mulutku
terbuka, alisku agak tersambung. “Ah, tak masuk akal, tak mungkin!” pikirku.
Usai
magrib perempuan bertubuh kurus, kira-kira usianya sudah 60 tahun mencari seorang pria di pinggir
sungai, tempat yang paling sering dikunjungi lelaki beruban puluhan tahun.
Tempat paling tentram, ikan berenang ke sana kemari, dan arus air dari hulu ke
hilir. Kata yang pernah terlontar mulut lelaki tua beruban itu kepada cucunya.
Namun, bukan hanya batang hidungnya yang kelihatan bahkan bau badan lelaki itu
pun tak tercium.
Perempuan
itu kembali berjalan. Mengunjungi tempat yang juga disenangi lelaki berkaki
tiga itu. Meski usianya yang tak lagi muda. Kakek itu sangat senang jika
menjaga tumbuh-tumbuhan, memberi pupuk, dan membersihkan daun-daun dari ulat
biru serta menyiramnya tiap hari ketika Asar telah ditunaikan. Akhirnya
pencariannya pun masih sama hasilnya nihil. Lelaki tua itu tidak berada di
antara tomat, jagung, dan sayuran.
”Bagaimana
jika lelaki itu mati disambar halilintar?
Bagaiaman jika ular telah mematuk tubuhnya hingga tubuhnya menjadi biru
dan racun menjalar cepat sesuai alur darah?”
Pertanyaan-pertanyaan
yang ada dalam pikirannya sesegera ditepisnya. Ditatapnya sebuah bangunan yang
terbuat dari anyaman bambu dekat pematang sawah sekitar 100 meter dari
tempatnya.
“Mungkin
ada di sana” pikirnya.
Perlahan-lahan
dan sangat hati-hati Perempuan itu menaiki anak tangga yang terbuat dari bambu
dan licin. Sudah dua tahun pondok itu menemani lelaki beruban itu hingga pondok
tersebut tak tegak lagi. Dibukanya pintu itu pelan-pelan hingga terdengar suara
rintihan. Dibukanya sarung di atas kepalanya yang berbentuk konde. Nampak
rambut hitam bercampur putih. Lalu dinyalakannya obor dekat pintu, hanya ada laba-laba
bersarang, tikus saling berkejaran, juga nyamuk yang siap memangsa. Ia menarik
nafas perlahan-lahan, Harapannya pupus, perempuan itu keluar perlahan-lahan.
pandanganya lowong.
Dengan
kaki yang berat dia melangkah. Hujan tiada henti sejak pagi. Senyumnya mulai
memudar, raut wajahnya berkerut sepanjang jalan.
“Dg. Bunga, di runtuni?”1 Sorak
tetangga Dg. Bunga
Kepalanya
hanya tunduk, dan memalingkan dari kiri ke kanan, dari kanan ke kiri. Suaranya yang parau dan pelan menjawab. “De’pa”2
Ketika
itu, lampu-lampu jalan yang menghias tiba-tiba padam. Suara anjing
melolong-lolong. Sarung yang diikat dipinggang yang menjuntai ke bawah
mengayung ke belakang seiring irama angin. Tetap berjalan. Menuju rumah yang
berdinding papan. Dilangkahkan kakinya dengan beban 120 kg. Anak tangga satu
per satu dilaluinya. Di langit huruf N jatuh. Di sertai suara yang gemuruh.
Hujan
perlahan-lahan berhenti, para warga mendatangi rumah Dg. Bunga. Di dego-dego para warga bertanya-tanya ke
mana Dg. Bundu menghilang. Bak To
Manurung yang tiba-tiba datang
dari langit. Dan Dg. Bundu tiba-tiba saja menghilang.
Lampu
bundar berwarna kuning padam di depan rumah Dg. Bunga. Seorang laki-laki dan
perempuan yang menggendong bayi turun dari mobil. “Itu anaknya Dg. Bunga, namanya
Safaruddin” bisik salah satu warga. Lalu hening ketika Safaruddin dan istrinya
naik ke rumah panggung milik orang tuanya. Mata para warga mengarah ke
laki-laki Safaruddin dan istrinya. Sementara Safaruddin yang masuk ke dalam
rumah tak bisa menyembunyikan kedukaan. Lewat matanya semua paham.
“Mak..”
Safaruddin
mencium tangan dan memeluk tubuh yang hanya dibaluti kulit untuk menyembunyikan
tulang-tulang Dg. Bunga hingga isak tangis pecah kala itu.
****
Pria
bersongkok putih di sampingku menghela nafasnya. Meski baunya tak sedap. Aku
tak memperdulikannya. Kutatap wajahnya, matanya berkaca-kaca, lalu butiran
kristal mengalir dipipinya menyatu dengan rintik hujan yang jatuh. Suara petir
terdengar. Kamu menarik tanganku.
Bergeser dari bawah pohon.
Persis
ketika jemarimu menyatu dengan jemariku. Kurasakan ada yang mengalir disekujur
tubuhku. Bibirku tergembok. Hanya detakan jantung dan air hujan yang kurasakan.
pikiranku melayang. Mungkinkah kakek tua itu datang?. Hingga kamu menarik
jemariku.
Kerudung
coklatku kuyup. Aku bersandar di tembok bercat putih. Suara dahsyat dari langit
terdengar. Sepatuku bergeser sejengkal nyaris ta’buttu3 dengan sepatumu.
Gemetar tubuhku.
“Tak
baik berada di bawah pohon. Jika hujan lebat seperti ini”
“Kata
siapa?”
“Nenekku”
Kembali
pikiranku kepada Dg. Bundu. Namun, Aku tak berani bertanya. Sebab air mata yang
telah kering tak ingin kulihat lagi. Hingga kubenamkan seribu tanda tanya dalam
batin dan otakku
Songkok
putihnya di masukkan dalam tas, dan mengambil jaket biru bertuliskan Chealsea.
Baru
kali ini Aku ditemani lelaki yang selalu menampakkan lesung pipinya. Kulitnya
yang sawo matang, lengan yang kekar, dan betis yang berisi hingga pantas
perempuan-perempuan di sekolah kerap memujanya sebagai seorang atletis yang
pandai memainkan kulit bundar di lapangan hijau.
Kali
ini Aku mengaminkan kalimat-kalimat perempuan pemujanya itu. Sebab mataku
sendiri yang menatap beberapa poster dari sampul buku milik Ramli semuanya
bergambar pemain sepak bola. Mungkin juga Syamsul Bachri atau Bambang Pemungkas
ada di antara pemain-pemain bola yang lain pada sampul bukunya.
Diayungkan
jaket berwarna biru pas di bahuku. Kembali ada aliran yang mengalir dalam
tubuhku hingga aku gemetar. Wajahku tertunduk merah secara perlahan-lahan.
Senyum kecil kusembunyikan. Mirip kisah-kisah di FTV yang selalu kutonton
ketika pulang sekolah. Atau kisah Zainuddin dan Nurhayati yang diceritakan guru sastraku. Setelah Ramli
memasang jaketnya ke bahuku wajahnya dipalingkan ke jalanan.
“Aku
duluan”
“Hujan
masih ….”
Belum
tuntas kujawab Ramli sudah berlari. kilat semakin terus menerus disertai suara
gemuruh. Engkau lenyap di balik hujan. Alisku melengkung bersambung. Tanganku
simetris ke depan. Tubuhku gemetar, bibirku tak bersuara manatapmu.
Akhir Januari 2016
Indra Anwar
Catatan
1.
Dg.
Bunga apa sudah ditemukan?
2.
Belum
3. Terbentur


