iklan *

Borobudur Writer and Cultural Festival tahun 2018 Fenomenalogi Perahu Bermoncong

Jogjakarta.Nasional- reaksipress.com -Aroma dupa dan ribuan cahaya lilin mengarah langit, penanda dimulainya festival di Vihara Borobudur, ke-esokan harinya membaca jejak "The History Relief", dan menandai foklore Indonesia dengan atribut  negara kepulauan memiliki lebih dari 1800 pulau,  kausalitas penelitian relief perahu bermoncong meretaskan idiom nusantara sebagai “Bangsa Pelaut”, karena mereka  terbiasa arung lautan di petala bumi dan Nusantara_ Liputan Reaksi Press, melacak jejak keterkaitan pelaut Bugis Makassar dengan peradaban dunia, maka tak disini kecuali karena : Borobudur Writer and Cultural Festival tahun 2018 ini, dengan tajuk: Musyawarah Agung Sejarahwan, Penulis dan Seminar Budaya 2018,  menguat  arus peradaban sejak ribuan tahun  menandai salah satu relief diantara 1460 relief lainnya, yaitu relief kapal di sisi utara candir menggunakan layar (cadik), sedangkan kapal kecil lainnya menggunakan dayung.

Sejarawan  dan arkeologi menduga jika relif kapal becadik di Borobudur, adalah hikayat pelayaran dan angkutan perdagangan hingga ke ujung bumi yaitu Madagaskar. Sebagian besar mereka juga menduga, jika kapal yang digunakan oleh bangsa Indonesia pada masa lalu adalah kapal yang menggunakan cadik. Mengulas relief perahu bercadik di Vihara Borobudue menuai ihktisar dan bahkan demikian fenomenalnya kapal Borobudur tersebut, replika kapal Majapahit yaitu kapal ada sekitar 6 abad kemudian, juga dibuat menggunakan cadik. Sayangnya dugaan tersebut melupakan banyak informasi sejarah lainnya[1]. Ungkap Irawan Doko Nugroho.
Phillip Beale, mantan anggota Angkatan Laut Inggris, menggagas rekonstruksi kapal dari relief candi dari masa Wangsa Sailendra itu. Ia tiba di Borobudur tahun 1982 setelah lama mencari jejak kapal, pada masa Nusantara masih berbentuk kumpulan kerajaan. Namun, dari banyak candi yang ia datangi, hanya Borobudur yang menyimpan bukti relief bentuk kapal di Nusantara, dengan tipologi bermoncong, tipe kapal Mataram.

Namun, anggapan itu ditampik Hasan Djafar, arkeolog, ahli epigrafi (ahli membaca tulisan di prasasti dan ahli sejarah kuno). Hasan mengatakan, sejauh ini belum ada bukti otentik tentang Mataram sebagai kerajaan maritime, dengan hanya kapal-kecil yang dimiliki kerajaan masa itu. Relief kapal itu masih menyimpan misteri, apakah kapal-kapal itu benar milik Kerajaan Mataram atau hanya kapal kecil milik saudagar Jawa, atau kapal bertebaran di Nusantara. Usut tuntas yang menghadirkan Michael Kasten “The Indonesian Casten”, The Ship: Technically, the term 'Pinisi' refers to the rig itself. In particular 'Pinisi' refers to the usual type of gaff-ketch rig. Local rig is referred to as the "seven sail schooner" gaff sail though the back is slightly smaller than the gaff sail forward, actually making it a ketch rig, similar in Borobudur temple[2]. (terjemah :…tujuh berlayar sekunar" galah berlayar meskipun belakang adalah sedikit lebih kecil dari layar galah ke depan, benar-benar membuat sebuah rig keci, sejenis di Candi Borobudur.
  Di antara bentangan cerita yang disimbolikkan dengan  relief menguatlah 4 buah gambar "relief perahu layar", yang dalam pemetaan oleh Bernard,   serupa naskah kuno kesejarahan yang dikategorikan aspek historiografi tradisional, menurutnya salah satu relief tersebut , peristiwa yang menelisik tentang "semangat bahari masyarakat Macassary"[3], seolah ketangkasan lampau itu menarik ulur Passompe (istilah Bahasa Bugis atau pengembara lautan) melengkapi relief di dinding candi tersebut, benar bahwa perahu pinisi pada periode yang sangat awal telah mengarung hingga ke madagaskar, Afrika dan negara-negara kepulauan lainnya, mereka membawa budak-budak yang banyak hasil rampasan perang sebagai perompak, juga singgah di Siam pada awal pra kemerdekaan negara tersebut untuk mengajari duel (silat) dan strategi perang gerilya melawan penjajah Thailand.
Sedang Bernard Vlekke, dalam bukunya : Nusantara  Sejarah Indonesia, melukiskan keberadaan armada perompak Bugis dengan kapal bercadik,  banyak berkeliaran di perairan lintasan bola bumi hingga  nusantara. Mereka bercokol di dekat Samarinda, dan menolong sultan-sultan Kalimantan di pantai barat dalam perang-perang internal antar-mereka, mereka di beri tempat di pulau Serangan Bali sebagai ujud terimakasih Ida Bagaus Pemecutan, hingga  kiprah lanun Bugis dengan serangan sporadis kerap menjadi momok menakutkan juga bagi perusahaan dagang Belanda_

Liputan Reaksi Press_ Kaimuddin Mbck, Musdlifah, Muhammad Islah 


[1] Irawan Djoko Nugroho, Majapahit Peradaban Maritim, Jakarta, Yayasan Suluh Nuswantara Bakti, 2011
[2] Michael Kasten, The Pinisi Indonesia, perpustakaan : Kongres. AS.2001.
[3] Bernard, H. Russell. "Research Methods in Anthropology".London: Sage.

Budaya

Nasional