Phillip Beale, mantan anggota Angkatan Laut Inggris,
menggagas rekonstruksi kapal dari relief candi dari masa Wangsa Sailendra itu.
Ia tiba di Borobudur tahun
1982 setelah lama mencari jejak kapal, pada masa Nusantara masih berbentuk
kumpulan kerajaan. Namun, dari banyak candi yang ia datangi, hanya Borobudur yang
menyimpan bukti relief bentuk kapal di Nusantara, dengan tipologi bermoncong,
tipe kapal Mataram.
Namun, anggapan itu ditampik Hasan Djafar, arkeolog, ahli
epigrafi (ahli membaca tulisan di prasasti dan ahli sejarah kuno). Hasan
mengatakan, sejauh ini belum ada bukti otentik tentang Mataram sebagai kerajaan
maritime, dengan hanya kapal-kecil yang dimiliki kerajaan masa itu. Relief
kapal itu masih menyimpan misteri, apakah kapal-kapal itu benar milik Kerajaan
Mataram atau hanya kapal kecil milik saudagar Jawa, atau kapal bertebaran di
Nusantara. Usut tuntas yang menghadirkan Michael Kasten “The Indonesian
Casten”, The Ship: Technically, the term
'Pinisi' refers to the rig itself. In particular 'Pinisi' refers to the
usual type of gaff-ketch rig. Local rig is referred to as the "seven sail
schooner" gaff sail though the back is slightly smaller than the gaff sail
forward, actually making it a ketch rig, similar in Borobudur temple[2].
(terjemah :…tujuh berlayar
sekunar" galah berlayar meskipun belakang adalah sedikit lebih kecil dari
layar galah ke depan, benar-benar membuat sebuah rig keci, sejenis di Candi
Borobudur.
Di antara bentangan cerita yang disimbolikkan dengan
relief menguatlah 4 buah gambar "relief perahu layar", yang dalam
pemetaan oleh Bernard, serupa naskah
kuno kesejarahan yang dikategorikan aspek historiografi tradisional, menurutnya
salah satu relief tersebut , peristiwa yang menelisik tentang "semangat bahari masyarakat Macassary"[3],
seolah ketangkasan lampau itu menarik ulur Passompe (istilah Bahasa
Bugis atau pengembara lautan) melengkapi relief di dinding candi tersebut,
benar bahwa perahu pinisi pada periode yang sangat awal telah mengarung hingga
ke madagaskar, Afrika dan negara-negara kepulauan lainnya, mereka membawa
budak-budak yang banyak hasil rampasan perang sebagai perompak, juga singgah di
Siam pada awal pra kemerdekaan negara tersebut untuk mengajari duel (silat) dan
strategi perang gerilya melawan penjajah Thailand.
Di antara bentangan cerita yang disimbolikkan dengan
relief menguatlah 4 buah gambar "relief perahu layar", yang dalam
pemetaan oleh Bernard, serupa naskah
kuno kesejarahan yang dikategorikan aspek historiografi tradisional, menurutnya
salah satu relief tersebut , peristiwa yang menelisik tentang "semangat bahari masyarakat Macassary"[3],
seolah ketangkasan lampau itu menarik ulur Passompe (istilah Bahasa
Bugis atau pengembara lautan) melengkapi relief di dinding candi tersebut,
benar bahwa perahu pinisi pada periode yang sangat awal telah mengarung hingga
ke madagaskar, Afrika dan negara-negara kepulauan lainnya, mereka membawa
budak-budak yang banyak hasil rampasan perang sebagai perompak, juga singgah di
Siam pada awal pra kemerdekaan negara tersebut untuk mengajari duel (silat) dan
strategi perang gerilya melawan penjajah Thailand.
Sedang Bernard Vlekke, dalam bukunya : Nusantara Sejarah Indonesia, melukiskan keberadaan
armada perompak Bugis dengan kapal bercadik,
banyak berkeliaran di perairan lintasan bola bumi hingga nusantara. Mereka bercokol di dekat
Samarinda, dan menolong sultan-sultan Kalimantan di pantai barat dalam
perang-perang internal antar-mereka, mereka di beri tempat di pulau Serangan
Bali sebagai ujud terimakasih Ida Bagaus Pemecutan, hingga kiprah lanun Bugis dengan serangan sporadis
kerap menjadi momok menakutkan juga bagi perusahaan dagang Belanda_
Liputan Reaksi Press_ Kaimuddin Mbck, Musdlifah, Muhammad Islah
Liputan Reaksi Press_ Kaimuddin Mbck, Musdlifah, Muhammad Islah



