iklan *

KOHATI BERCERITA : ”KETIKA PEREMPUAN BERBICARA”



Artikel.Opini- www.reaksipress.com –“Pergerakan perempuan di Indonesia adalah suatu hal yang berpengaruh besar. Perempuan itu adalah tiang negara. Apabila baik perempuannya, maka baiklah negaranya. Apabila rusak perempuannya, maka rusaklah negaranya"

Di sini tampak betapa kaum perempuan itu sangat menentukan dalam kehidupan berbangsa, bermasyarakat dan bernegara. Agar perempuan cakap dalam mengatur dirinya dan mengatur lingkungannya, maka diperlukan ilmu pengetahuan. Sebagai mahasiswa, tugas utamanya adalah menuntut ilmu.

Isu spesialisasi yang berkembang dalam masyarakat termasuk di kalangan perempuan, mengharuskan seorang perempuan berusaha mendapatkan spesialisasi itu. Dalam hubungan ini, Korps HMI-Wati berusaha seirama dalam memperjuangkan aspek-aspek keperempuanan, dan telah meneruskan secara berani tali emansipasi dari R.A Kartini menjadi tali profesi berbentuk kerja nyata.

Kehadiran Korps HMI-Wati ini dengan berbagai latar belakang, yang pertama, karena semangat dan jiwa Islam yang tertanam pada setiap anggota HMI-Wati yang menempatkan perempuan pada tempat yang wajar. Kedua, karena semangat dan realisasi emansipasi perempuan yang diperjuangkan R.A Kartini. Ketiga, karena tuntutan HMI itu sendiri, secara kuantitas dan kualitas memungkinkan sekali mendirikan Korps HMI-Wati sebagai badan khusus yang bergerak di bidang keperempuanan.

Keempat, kondisi intern, berdirinya berbagai Korps di kalangan Angkatan Bersenjata, memacu semangat HMI-Wati mendirikan wadah sejenis. Kelima, faktor politik, agar HMI-Wati ikut bersama kelompok perempuan lain dalam menumpas Gestapu/PKI. Keenam, karena berdirinya lembaga-lembaga khusus dalam HMI, seperti LDMI, LKMI, LSMI dan LAPMI. Ketujuh, dalam rangka peningkatan dan pengembangan kegiatan serta pembinaan HMI-Wati di bidang keperempuanan dalam rangka pembentukan kader HMI-Wati sebagai patriot komplet.

Namun terbentuknya Korps HMI-Wati bukanlah karena intruksi dari atas, tetapi tumbuh sebagai ide/gagasan dari bawah, dengan memperhatikan suasana ketika itu. Perkembangan baik kuantitas maupun kualitas HMI-Wati di berbagai cabang di Indonesia tampak meningkat dan menuntut adanya pembinaan dan penyaluran melalui suatu wadah khusus.

Lahirnya Korps HMI-Wati sebagai wadah khusus adalah wadah yang paling tepat untuk membentuk perempuan-perempuan muslim yang sadar akan fitrahnya. Dalam wadah Korps HMI-Wati mempunyai laboratorium khusus mengenai berbagai ilmu yang tidak didapatkan dibangku kuliah, yang diharapkan dapat mempersiapkan dirinya menjadi seorang "Sarjana Perempuan" yang sekaligus "Perempuan Sarjana".

Seiring berjalannya waktu, kehadiran Korps HMI-Wati tidak serta merta berjalan dengan mulus, di awal perkembangannya sebagai wadah baru dengan model yang unik, dijumpai banyak kekhawatiran yang muncul dari dalam. Kekhawatiran tersebut menimbulkan proses disintegrasi dalam HMI. Dan juga Korps HMI-Wati diperhadapkan oleh beberapa dilema, yaitu sebagai integral HMI, Korps HMI-Wati harus mampu menopang upaya mewujudkan tujuan HMI yang misi perjuangan organisasi.

Selanjutnya, untuk menarik partisipasi anggota dan mahasiswa perempuan Islam pada umumnya, Korps HMI-Wati harus mampu memenuhi kebutuhan dasar seorang mahasiswa perempuan yang sedang belajar di perguruan tinggi.

Untuk itu Korps HMI-Wati harus terus menerus mencari dan menemukan sebuah paradigma baru sebagai solusi dari dilema tersebut, sehingga HMI-Wati akan lebih mudah menghayati dan mengamalkan jiwa serta semangat yang mendasari eksistensi Korps HMI-Wati di lingkungan HMI, dan juga dapat lebih membekali HMI-Wati meningkatkan kualitas dan peranannya pada lingkungan dan dalam totalitas perjuangan untuk mencapai tujuan HMI.

Penulis : Achy
Editor   : A.Maradja

Artikel