Artikel.Budaya.
reaksipress.com -Dalam pelapisan
strata sosial, Masyarakat Bugis agak ketat memegang adat yang berlaku, pelapisan
sosial masyarakat yang tajam merupakan suatu ciri khas bagi masyarakat Bugis.
Sejak masa
pra Islam, masyarakat Bugis mudah mengenal stratifikasi sosial hingga
terbentuknya kerajaan dan pada saat yang sama tumbuh dan berkembang secara
tajam stratifikasi sosial dalam masyarakat. Startifikasi sosial ini
mengakibatkan munculnya jarak sosial antara golongan atas dengan golongan
bawah.
Dalam suku
Bugis jaman dulu dikenal 3 strata sosial atau kasta. Kasta tertinggi
adalah Ana' Arung (bangsawan) yang punya beberapa sub
kasta lagi. Kasta berikutnya adalah To
Maradeka atau orang merdeka (orang kebanyakan). Kasta
terendah adalah kasta Ata atau
budak.
Hanya
orang-orang yang berkasta Ana' Arung dan To Maradeka yang
berhak memberikan nama gelar pada keturunannya. Sementara kasta Ata tidak berhak untuk
menggunakan nama gelar. Bagi bangsawan Bugis, gelarannya adalah "Andi", sedangkan
bagi To Maradeka bergelar Daeng. Namun dalam
perkembangannya, paggilan "Daeng" saat ini memiliki makna yang
beragam. Bisa berarti kakak, bisa pula bermakna kelas sosial.
Namun
demikian penggunaannya harus berhati-hati, karena bisa menyebabkan
ketersinggungan sosial seperti pada kasus anggota Pansus Angket Skandal Century
dari Partai Demokrat Ruhut Sitompul yang
memanggil Pak Jusuf Kalla dengan
sebutan "Daeng" boleh jadi bermaksud baik atau sebagai penghormatan.
Namun bagi orang Bugis, tidak selamanya penyebutan kata "Daeng"
itu dapat diterima baik. Buktinya, beberapa anggota Pansus lain yang berdarah
Bugis seperti Faisal Akbar dan Andi
Rahmat merasa
tersinggung dan keberatan. Juga sekelompok mahasiswa di Makassar melakukan aksi
demo mengutuk ulah Ruhut sitompul tersebut.
Apalagi saat ini, penggunaan kata Daeng untuk
memanggil seseorang sering ditujukan untuk masyarakat dengan kelas sosial
tertentu. Misalnya, daeng becak (penarik becak), daeng sopir pete-pete (sopir
angkot), daeng kuli bangunan dan lain sebagainya.
Sebagian
masyarakat Bugis masih memegang teguh adat istiadatnya termasuk berkaitan soal
strata sosial ini. Di Sulawesi Selatan, khususnya penghormatan kepada tokoh
Bugis termasuk di dalamnya bangsawan biasanya dilakukan dengan
menggunakan kata panggilan "Puang", bukan "Daeng". (BangAsa)
Editor : A.Maradja


