iklan *

Kampus ITB Tidak Kren : Anti Dialog Anti Diskusi

Kampus itu sebenarnya tempat paling merdeka hari ini, tempat yang memungkinkan kita berdialog, beranalogi  menumbuhkan nilai kritis mahasiswa, tempat yang mengemulsikan semangat ilmu berdasar wacana kebenaran dalam pemikiran_ hal demikian menandaskan bahwa "Debat Kampus" itu tempat menempa diri, membangun analisa dan melembutkan bahasa...percakapan.
Kampus itu ruang paling merdeka semua hal bisa dilihat dalam bingkai Valibilis : segala bisa di buktikan atau diandaikan salah, dikampus itu silahkan " maggea" (bertengkar: bahasa Bugis) karena hal tersebut  dapat memperhalus bahasa, hal yang krusial di butuhkan juga Indonesia hari ini, di kampus itu tak di gunakan kata  “pokoknya “ / “harus” "mesti", sebab hal demikian membungkam dialog juga diskusi, bahkan "debat peran agama" dalam sejarah Eropa dianggap sebagai implementasi yang melahirkan  kedaulatan dalam menyelamatkan negeri  tersebut, tanpa "Perang Agama".

Naif juga kekanak-kanakan, ketika Wakil Rektor Akademik dan Kemahasiswaan ITB Bermawi Priyatna Iskandar (ramai di kutip oleh media online) mengatakan, "kami menindaki atau membekukan organisasi intern kampus ITB dengan inisial HATI (Harmoni Amal dan Titian Ilmu) yang dduga berafiliasi dengan HTI". Lanjut ia mengatakan bahawa teguran telah dilakukan sekitar dua pekan lalu, ini teguran terakhir  karena mengundang tokoh-tokoh HTI dalam diskusi kampus , hal ini dikhawatirkan membawa pemahaman buruk ke kalangan mahasiswa.

Lucu : ketika dosen curiga berlebihan ke mahasiswanya, dengan menapikan mereka untuk duduk sama-sama bertukar pikiran, apa yang mereka inginkan dengan pertemuan atau dialog tersebut.
Logika atau berargumen, sebuah atraktif Pendidikan maju yang melemahkan tumbuhnya  feodalisme juga pendewaan pada dosen, yang tidak mau di kritik, atau hanya menghendaki  mahasiswa sekedar manggut 2 atau kemudahan transaksi ijazah di bawah meja.

Dari dokumen dalam pertarungan politik di awal kemerdekaan itu, sekali waktu dalam dialog sengit, Soekarno dikalahkan dalam debat, namun ketika ditanya oleh Ahmad Subardjo tentang kekalahannya, Bung Karno hanya mengatakan: “Seperti rotan, saya hanya melengkung, tidak patah”.Hal demikian merupakan banguan argumentatif yang hilang dari negeri ini, perihal yang menunjukkan "ke-bungkam-an", juga atas melemahnya situasi debat yang menghendaki negeri ini mengambil kesepakatan secara stereotif. Mengutip banyak pendapat tokoh pendidikan,  bahwa dialog, diskusi merupakan  pemerintahan akal atau sebuah integritas dengan jiwa merdeka pula  merawat akal sehat publik.
___
Tulis Kaimuddin Mbck_

Pendidikan