ReaksiPress.Warisan sastra
lisan dari masa lampau terkandang dibuat
dengan maksud dan tujuan tertentu, entah untuk memberi petuah atau mungkin menyindir
kondisi dari sebuah keadaan dan terkadang relevan dengan keadaaan zaman sekarang
–itu ajaibnya-
Elong “cincing banca” adalah satu dari sekian
banyak sastra lisan yang menjadi contoh , “Cincing banca” adalah lagu siutan
yang dilakukan untuk memilih penjaga atau pengejar pada permainan ‘enggo-enggo”/kejar-kejaran.
Namun terlepas sebagai
lagu permainan, ia kemudian sarat dengan nilai kritikan sosial yang begitu
sesuai dengan kondisi kebangsaan kita sekarang ini.
“Cincing
banca banca naku banca” mengasosiasikan cara memilih
pemimpin yang asal-asalan, asal pilih, asal ada uang, asal ada kepentingan,
sehingga kemudian lahirlah pemimpin pemimpin korup yang lebih mengutamakan
kepentingan dirinya daripada rakyat.
“Tannang
sai pan’nikia nakumalo malonda” pannikia atau
kelelawar dikonotasikan dengan aparat penegak hukum yang seharusnya menjaga
penyelewangan dan budaya korup justru ikut berkolaborasi dan terkesan tidak tau
padahal tau karena telah mendapat jatah.
“Ipondai
dare, assuluko ponda antamako dare” i ponda dan i dare adalah satu jenis binatang yang sama dengan
sebutan berbeda, yang menggambarkan bahwa pergantian pemimpin tidak akan
membawa perubahan karena karakter dan sifat dari pemimpin yang baru sama dengan
yang lama bahkan lebih korup. Dare’ atau
kera merupakan penyimbolan keserakahan dan ketamakan.
Secara umum lagu “cincing banca” menjadi sebuah satire
yang lemah gemulai dalam mengkritik situasi negara kita. Dinyanyikan dengan
riang gembira oleh anak-anak kita namin tidak pernah menjadi pesan untuk kita
yang ‘merasa’ dewasa –miris-
(SM.
Danial, ASQ)


