Nasional.budaya-reaksipress.com - Kali ini Jogja dengan narasi yang tak tak cukup panjang, tetas Budaya dalam jejak Bugis-Makassar di Keraton, apresiasi langsung dari nol kilometer Malioboro Jogjakarta tanpa perlu mengumbar data atas keberadaannya sebagai kota wilayah budaya.
Sebagaimana maraknya pertunjukan budaya etnik termasuk akrobatik pertunjukan musik alternatif semalaman yang di mainkan sekelompok anak-anak muda Jogja, mengesankan ….., di sini : budaya , etik- keteladan, pengrajin, kuliner serta pejalan kaki, mengemas Jogja ini di Malioboro.
Di ujung jalan Malioro sebelah selatan pojok merupakan tempat ke-keratonan pertama berdiri, dipimpin Sri Sultan Hamengkubuono I, dalam sudut ruang tengah tampak berdiri dua patung menandai identitas “Patung Bugis dan patung Daeng” isyarat yang menghubungkan Bugis- Makassar dengan kekeratonan Yogjakarta.

Asal muasal Prajurit Daengan dan Bugisan ini, dalam buku tulisan De Graff, banyak diceritakan sejarah perjalanan pasukan Makassar Bugis yang datang ke pulau Jawa yang terbagi menjadi dua wilayah, yaitu di wilayah barat dipimpin oleh Karaeng Bonto Marranu dan wilayah timur oleh karaeng Galesong . Tidak diketahui pasti sejak kapan pertama kali orang orang bugis-makasar datang ke wilayah Jawa, namun de Graff mengatakan bahwa sekitar tahun 1670an, orang orang Bugis-Makasar sudah berada di Banten .
Hubungan orang-orang Makasar datang ke Jawa lebih banyak didominasi karena jiwa petualang dan kekuatan tentara yang gagah berani. Koalisi ini membawa sebuah kemenangan besar atas Jawa, terhadap perlawanan melawan penjajah.
Dari Ensiklopedia Keraton Yogyakarta, dikatakan bahwa kedatangan pasukan Bugis -Makasar itu ke Yogyakarta dikarenakan peranannya Raden Mas Said dengan putri Mangkubumi (Hamengkubuwana I) yang bernama Gusti Kanjeng Ratu Bendoro. Pasukan ini dipinta mengawal dan menjaga keamanan Gusti Kanjeng Ratu Bendoro dari Surakarta sampai ke Yogyakarta.

Sesampai di Yogyakarta ternyata diterima dengan sangat baik oleh sultan dan rakyatnya, sehingga dengan kejadian itu membuat orang-orang Makassar memutuskan untuk tetap tinggal dan menetap. Putusan itu diterima oleh Hamengkubuwana I, bahkan kemudian diangkat sebagai pasukan kerajaan yang dibagi dalam dua Brigade yaitu Daengan dan Bugisan. Prajurit Bugisan ini yang kemudian bertugas untuk menjaga Putra Mahkota dan Pepatih Dalem, pada masa Hamengku Buwana IX , prajurit Bugisan juga ditugaskan untuk menjaga Grebeg. Mereka juga diberi tempat tinggal yang diberi nama kampung Bugisan.
Dalam upacara grebeg keberadaan prajurit Bugis tersebut menjadi pengawal sebab dianggap prajurit yang kuat seperti sejarah awal mula mereka berasal, Panji-panji atau bendera dari prajurit Bugis berbentuk empat persegi panjang dengan warna dasar hitam dibagian tengah terdapat lingkaran dengan warna kuning emas. berasal dari kata wulan yang berarti bulan dan dadari yang berarti mekar/muncul/timbul. Secara filosofi berarti 2 prajurit ini Bugis Makassar, diharapakan selalu memberikan penerangan dalam kegelapan seperti munculnya bulan dimalam hari yang gelap yang menggantikan fungsi dari matahari. Tampak Seragam yang dikenakan oleh prajurit Bugis adalah baju berbentuk kurung/jas tutup dan celana panjang hitam topi hitam.
“Romantika kisah prajurit ini, menyadarkan bahwa perjuangan suku ini melalui sejarah sungguh panjang,”. Kehadiran orang-orang Bugis-Makassar di berbagai wilayah di Tanah Air, termasuk di tanah Jawa, tak bisa disangkal merupakan bagian dari sejarah perjalanan bangsa ini “Menjadi Indonesia”. Benih-benih kebangsaan itu pun tumbuh seiring proses akulturasi budaya.
Semakin jelas bahwa bangsa besar ini lahir dari pergulatan antar etnis, bila muncul klaim bahwa hanya golongan tertentu yang paling berjasa dalam proses bangsa ini “menjadi Indonesia”, tentu saja pandangan semacam itu sungguh menyesatkan___
Reaksi Pres :Liputan Crew : Foto Isla dan Musdalifah_Edtr : SB,


