iklan *

PESAN "ADDENGKA ASELOLO"DI AMINKAN LANGIT (KAMPALA MAROS)

Berita Maros Terkini : Luapan perasaan bahagia diterjemahkan dengan dendang alung-alung atau dengan perangkat utama yang disebut lesung,  adalah sebuah wadah yang berbentuk cekung sebagai tempat menempa atau  untuk menumbuk padi, Kemeriahan dan tradisi turun-temurung ini dibanjiri masyarakat adat, irama mappadendang mengalun hingga kesudut desa, pertunjukan yang digelar  usai padi dipetik dengan cara diketam (sebuah alat pemetik khusus dengan sifat memotong, secara jamak di sebut “ani-ani”), masyarakat adat menyebut kemeriahan ini dengan istilah alunan "addengka ase lolo" . 

Secara umum di Sulawesi Selatan menyebut tradisi ini "mappadendang",  kali ini mengesan di Kecamatan Marusu, Dusun Kampala Desa Bontomate' ne, Kab Maros. Bersama salah seorang pemuda Kampala ber baju adat menyampaikan perihal acara ini, ia Sukri " setiap tahun acara ini kami rayakan sebagai bentuk rasa syukur petani karena berlimpahnya padi", tanggap Muhammad Sukri.

         Keterangan tentang produksi bunyi ini merupakan instrumen atau di sebut " maddengka" yang menghasilkan irama bunyi, dengan cara : padi yang ditumbuk menggunakan alu/ antang dengan mengikuti format irama tertentu.     Sumber mengatakan bahwa terdapat 2 (dua) ketukan yang terjadi dalam format tersebut, yaitu jenis ketukan Attannang (berjalan labil) dan ketukan Appalari (ketukan yang mengatur tempo, cepat atau lambat). Lesung sendiri sebenarnya, merupakan batang  kayu besar yang dibuang bagian dalamnya.

           Adapun gabah yang akan diolah ditaruh di dalam lubang tersebut, ditumbuk dengan alu, semacam tongkat tebal yang juga dari kayu, penumbukan berulang-ulang sampai beras terpisah dari sekam. Setelah zaman kian maju, membersihkan padi dengan lesung ditinggalkan, karena di nilai kurang dapat memperoleh hasil yang banyak. Kini lesung tetap di lestarikan sebagai aplikasi kesenian tradisional. Prosesi tradisi ini bertujuan untuk Maddengka ase lolo/ menumbuk padi yang baru di ketam, adapun jumlah  para pelaku, (disaat meliput peristiwa ini) kebetulan berjumlah  12 orang, tapi  sumber mengatakan, “ jumlahnya bisa lebih,  tergantung panjangnya assung”.

Keunikan tradisi mappadendang dari dusun Kampala ini, karena diiringi dengan tari Pattapi (tarian yang menggunakan property penampi (semacam nampang lebar yang di rajut dari rotan), dengan pelaku semuanya perempuan berjumlah empat orang. Keberadaan penari Pattapi ini menunjukkan urutan urutan proses mengerjakan padi menjadi beras. Gerakan penari Pattapi mengikuti hentakan ritme  yang diatur temponya oleh Pappadekko , namun hentakan ketukan yang dilakukan pappadekko tidak mengenai padi , hanya lesung, karenanya irama yang dihasilkan pengatur tempo ini terasa khas. Proses awal sebelum tradisi ini dimulai dilakukan pembacaan doa oleh panrita / tokoh agama dengan tujuan menyampaikan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas  keberhasilan panen.yang di-aminkan oleh pelaku budaya tradisi "Addengka Aselolo"..
______________________
Lacak jejak tradisi (etnik) gambar : Muhammad Syukri
Sumber Berita Terkini dari : Reaksi Press_Reporter : Mr.GL

Budaya

Maros