iklan *

ASSIKALAIBINENG DALAM BICARA BUGIS-MAKASSAR (BAG.II)



ReaksiPress.Maros. Meraba lengan adalah titik pertama yang disarankan dikateni (dipegang), sebelum meraba atau mencium titi-titik lainnya. Pele lima (telapak tangan), sadang (dagu), edda’ (pangkal leher), dan cekkong (tengkuk) adalah sejumlah titik yang dalam buku ini direkomendasikan dikarawa dan dicium di tahap awal foreplay.

Setelah bagian badan tubuh, mulailah masuk di sekitar muka. Titik “rawan” istri dibagian ini disebutkan; buwung (ubun-ubun), dacculing (daun telinga), lawa enning (perantara kening dia atas hidung), lalu inge (bagian depan hidung). Di titik ini juga disebutkan, tahapan di bagian badan sebelum penetrasi langsung adalah pangolo (buah dada) dan posi (pusar).
Dalam foreplay berupa meraba dan mencium ini, disarankan untuk tetap tenang dan mengatur irama naffaseng (nafas).

Kitab persetubuhan Bugis-Makassar sangat dipengaruhi oleh ajaran fiqhi al’jima atau ajaran berhubungan seks suami istri dalam syariat Islam, sehingga proses pada saat menahan nafas disarankan dengan melafalkan zikir dan menyatukan ingatan kepada Allah Taala.
tanpa bersuara, Zikir dan mantra dalam bahasa Bugis itu dilafalkan dalam hati.

Ajaran Islam, yang mewarnai kitab Assikalaibineng bukan seperti buku-buku lain yang mengajarkan gaya dan teknis bersenggama dan melampiaskan nafsu belaka.
Laiknya ibadah, inti dari ajaran Assikalibineng adalah mengelola nafsu birahi ke arah yang lebih positif dan bermanfaat secara spiritualitas.


Editor : A.Maradja

Artikel

Budaya