ReaksiPress.Maros.‘Tabe’
adalah sebuah kata yang disertai laku atraktif dengan membungkukkan badan, dan pandangan
diarahkan ke bawah/tanah, dilakukan oleh
orang bugis-makassar ketika berjalan melewati kerumunan orang atau berjalan di depan
seseorang yang dianggap lebih tua, dihormati, atau punya wibawa. ‘Tabe’ adalah sebuah
warisan budaya lampau masyarakat Bugis-Makassar.
Hal menarik terjadi
ketika teman saya ke Jakarta untuk sebuah kepentingan penelitian, ia yang
mencoba mengubek-ubek kota ‘metropolitan’ dengan kosmik egoisme yang tinggi. Kota
dengan pencampuran budaya terkompleks di nusantara. Budaya yang teranyam dari
budaya-budaya seluruh negeri.
Sekali waktu ia ke IJK
(Institut Kesenian Jakarta), melanglang ke teater Lawas, dan berjalan melewati
deretan bangku panjang kedai kopi teh
yang khas -tapi bukan itu- sikap orang
yang dilewatinya ketika ia mengatakan ‘tabe’ dengan takzim sambil menundukkan pandangan ke
bawah yang membuat ia mengalami sebuah ‘emotional shock’ yang teramat sangat. Setiap
orang yang dilewatinya akan membalas dengan sikap santun , ada yang menyedekapkan
tangan, membungkukkan badan, ada yang meluangkan waktu sejenak untuk berdiri. –sangat
tulus-
Ia yakin bukan karena
songkok dari anyaman rotan dengan tepian garis emas (songkok bugis,red) yang ia kenakan tapi kepahamam
orang-orang metropolis terhadap kata ‘tabe’ dan penghargaan terhadap sikap
atraktif dan kata ‘tabe’.
‘Emotional shock’ yang ia
maksud adalah sikap dan penerimaan orang-orang di kedai kopi teh di ibu kota justru
berbanding terbalik dengan penerimaan orang di ‘rumah’nya sendiri yang
terkadang sudah dianggap sebagai sebuah ungkapan basa-basi, sebagai sebuah laku
atraktif yang tidak mesti di ‘revly attractiv’ kan. –ia lumrah-
Bahkan dibeberapa
kalangan ‘tabe’ dianggap sebagai budaya feodalisme dan ariktokrasi yang tidak relevan
dengan kebebasan berlaku dan bertutur, padahal ‘tabe’ bukanlah sebuah ‘degree
elevation sign’ tapi ia adalah tanda sebuah keluhuran budi, kesediaan
menghormati, kepahaman terhadap orang lain dan kesediaan memanusiakan manusia
secara tulus. (Kaimuddin.MBCK/AM)


