Lomba beduk yang awalnya telah dirintis oleh sekelompok anak muda/ organisasi HPPMI Maros sejak 2005 hingga kini 2018, telah menjadi Tradisi Religi di Maros Butta Salewangang ini_ Riuh hingga malam lebaran beduk di tabuh, tak ada hal yang sakral dari bunyi benda mirip drum berkulit / tambun itu, sedang anak-anakpun membunyikannya hanya sekedar puas bisa me-produksi bunyi "duk..tak.. du..du..duk" , lalu cekikikan mungkin juga sebagai gambaran puas telah "magganrang" atau memukul beduk.
kompetisi Tabuh beduk dalam aransement, mulai dari kursi besi rusak, jirojidor dari Africa, sistim dirigent memakai obor api seolah dari zaman bahuela hingga penggunaan kantong kresek_ tepuk tangan dan ruangan ptb yang luas tiba2 me-sesak, demikian semarak dan berdesakan, terlebih bahwa : tiap2 peserta rupannya membawa serta rekan2 sekampungnya atau selokalisasi masjidnya, banjir penonton bikin panitia mengganti pagar darurat dgn tali sebagai ganti pagar pengaman bambu yang telah bobol.
Jangan ke kompetisi Tabuh Beduk sebab konstruktif produksi irama baru saja ketukan ritme dan temponya bikinmu berdecak, sungguh harmoni.....__
Reaksi Press_Tulis Kaimuddin Mbck


