![]() |
| Makmur, HT(Ketua DPC Persatuan Wartawan Republik Indonesia Kabupaten Maros) |
Artikel.Budaya-
reaksipress.com -Implementasi Pemimpin
masyarakat lampau Bugis- Makassar, dalam makna kontekstual secara sederhana di
bahasakan bahwa “ketika pemimpin itu ada, hal tersebut merupakan ekspresi sebuah harapan Yang
diidamkan”, dan sebab sederhana bahwa : masyarakat menghendaki stabilitas. Kita
ingat sebuah glosarium budaya tentang istilah “sianre bale.”
Sebuah
narasi kehidupan masyarakat yang sangat
kacau, ketika si kuat memangsa yang lemah, tanaman tak membuahkan hasil,
penyakit menular dimana-mana, kolusi-korupsi dan nepotisme, suasana runyam
seakan tiada tanda-tanda kapan hal ini akan berakhir. Di tengah kisaran
tersebut pemimpin tiba-tiba hadir : ditengah hujan lebat dan petir meraung-raung membelah angkasa.
Mengutip
dari buku “Politics is a kind of war
victory”, ...Sejak Kautilya menulis Arthasastra
di India di abad ke-4 sebelum Masehi, sejak Machiavelli menulis Il Principe di Italia di abad ke-16,
sampai dengan kompetisi demokratik abad ke-21, para pemikir dan pelaku politik
sadar: politik kepemimpinan itu sejenis
perang, yang harapannya berujung harmonisasi. ikhtiar perlawanan itu lahir
dan tumbuh dari konflik, bentrokan,
persaingan dan pergulatan hegemoni serta kekerasan yang membentuk sejarah. Dan sampai hari ini kita harus mengakui, bahwa
secara sederhana idaman akan stabilitas adalah idaman yang diinginkan oleh
masyarakat, Negeri, Kerajaan, atau Republik, bagaimanapun ia terbentuk.
Antagonisme tak pernah berakhir.
Usai peristiwa panjang tersebut tanpa mereka duga, tiba-tiba hujan berhenti,
langit berubah cerah, tanah kering dan tak ada genangan air atau tanah becek
berlumpur akibat hujan. Dalam keheran, penduduk keluar dari rumahnya
masing-masing dan pada saat seluruh penduduk keluar, tampak oleh mereka di
sebuah padang berdiri Saoraja (Istana)
yang sangat indah dan besar.
Entah
siapa yang membangunnya dan sejak kapan berdirinya, sebab sebelumnya di tempat
dimana Saoraja itu berdiri hanyalah
sebuah padang yang ditumbuhi ilalang liar. Tak berselang lama Gallarang serentak bergerak menuju
kesana.
Betapa
herannya ketika melihat di depan Sapana
(Tangga Istana/Saoraja) tersebut, seorang lelaki muda berwajah tampan bersih
dan berwibawa duduk di atas sebuah kursi bamboo. Badannya keras berotot, di
kepalanya bertengger sebuah Lingkayo
(semacam Mahkota) terbuat dari emas.
Pakaiannya
merah menyala berhias kalung garuda di dadanya. Di kedua tangannya melilit
sepasang gelang berbentuk naga yang juga terbuat dari emas. Di pinggang bagian
depan terselip sebilah keris berhulu emas dan berantakan permata aneka warna.
Di pangkuannya tersandar sebilah alameng
(kalewang) yang gagangnya terbuat dari kayu hitam mengkilat, warangkahnya
terbuat dari kayu cendana berlurik kulit harimau.
Tatapannya tajam memancarkan kewibawaan, namun kelihatan
bibirnya tersungging penuh kharisma melihat penduduk berdatangan mendekat di
depannya, sebab pesona tersebut menyembahlah Gallarang diikuti oleh semua yang menyertainya.
Demikian pemimpin itu ada dan bergelar to manurung (mengutip kisah folklore di
Marusu terkait muasal Karaeng LoE Ri
Pakere ).
Narasi
tadi adalah simbol, tanda yang mengacu
ke sehimpun informasi tentang latar belakang ke-pemimpinan di daeran tertentu,
sesuatu yang hendak dikatakan, semisal kesadaran tentang hubungan stabilitas suatu
Negara, nilai solutif dan ke-akrab-an yang misterius dihadirkan oleh tokoh
pemimpin tersebut.
Lalu,
2018-2019 periode ramainya pengusungan
pemimpin, Indonesia hari ini tak cukup dengan hanya kaidah : kaifa matuku yualla alaikum, tetapi
lebih dari itu….bahwa kekuasaan tercipta bukan untuk dirinya, kekuasaan
tersebut juga tak identik dengan
dirinya, mungkin juga pemimpin dimakzulkan untuk dipenggal jika bersalah, hingga dicemarkan
namannya, juga bukan kebrutalan yang dipandang
sebagai sesuatu yang sah. Yang penting adalah mengimplemetasikan bahwa
bumi akan berhenti gonjang-ganjing setelah pemimpin memangku masyarakat.
Kekuasaan
selalu bergeser sedang orang yang menciptakannya, dalam kata-kata Ernesto
Laclau, ”pemimpin itu akan sia-sia mendapatkan waktu istirahatnya setelah kematian”.
Pandangan
Bugis Makassar, maka pemimpin oleh
masyarakatnya dianggap sebagai manusia surgawi atau Wija Palamoa, diakui sebagai orang yang datang dan mempunyai
kepintaran dan keahlian. Seorang
terpilih menjadi pemimpin karena beberapa alasan antara lain : Karena kehebatan
pribadi (pengetahuan, religi dan bijaksana) dengan alasan politik untuk
menenangkan, membahagiakan dan mempersatukan wilayah, dan pemimpin yang baik
adalah pemimpin yang dapat tiba-tiba berada di samping kita tanpa kita rasakan
dan ia begitu sangat dekat.
Penulis :
Makmur, HT.
Editor : A. Maradja


